Kamis, 14 Mei 2009

Gimana, ya Caranya Bilang ke Bu Dyah Kalo Dia Nggak Enak Ngajarnya?

Paling tidak ada dua mahasiswa yang curhat kalo cara ngajar saya tuh nggak enak. Sayangnya curhatan ini tidak disampaikan secara langsung kepada saya. (Lha Bu Dyah kok tau dari mana? Hehehe… ada deh, mau tau aja, yang jelas saya bisa sebutin nama dan bukti, kok. Jangan kuatir, tidak mempengaruhi penilaian objektif saya, kok) Itu baru dua, lho yang bilang. Padahal biasanya hal seperti ini memiliki fenomena gunung es. Di mana yang keliatan di atas permukaan air laut cuman ujungnya doang, sementara sisanya gedhe bener di bawah sono.


Sayangnya, curhatan ini tidak disampaikan secara langsung kepada saya (kok diulangin sih, Bu?). Jadi begini… jika anda menyampaikan secara langsung kepada saya, berarti anda menolong diri anda sendiri. (Kok, bisa?) Kalo anda menyampaikan langsung kepada saya, berarti anda memberikan kesempatan bagi saya untuk memperbaiki diri. Kalo saya semakin baik, berarti kuliah yang disampaikan oleh saya juga semakin enak. Kalo kuliahnya semakin enak, anda juga semakin enjoy. Kalo anda semakin enjoy, anda akan semakin paham. Mudeng?

Ntar kalo Bu Dyah dibilangin bahwa ngajarnya nggak enak… marah… Mmmm, kalo marah mungkin nggak… shock maybe. Tinggal gimana anda ngomongnya. Sebuah kritik, jika disampaikan dengan bahasa santun dan untuk kebaikan bersama, tentunya kemungkinan diterima akan lebih besar.  Tapi kan shocknya juga nggak boleh lama-lama. Dan itu adalah reaksi wajar. Orang mana sih yang dikritik nggak kaget. Pasti itu. Tinggal dia mau menerima kritik itu atau tidak. Ya, kan?

Nggak, ah… ntar di-cing Bu Dyah. :D Mudah-mudahan yang ini nggak sampai terjadi. Karena saya kan cukup transparan dan objektif. Saya bisa membenci orang, tapi di sisi lain, saya bisa mengatakan dengan pasti sisi baik dari orang yang saya benci itu. Trust me, I know what I am saying.

Masih nggak berani ngomong? Tinggalin komentar atau ngisi kues ini aja, deh…


Tidak ada komentar: